
Simulasi Broken Wing. Petugas Pemadam kebakaran Inco sedang berjuang memadamkan api di bus yang dibaratkan pesawat pelita yang sedang terbakar.
“Mayday…., Mayday…, pesawat mengalami gangguan mesin, kami harus mendarat darurat “. Suara Pilot Sirdiansyah itu terdengar tiba-tiba. Padahal, pesawat Pelita Air yang dipilotinya baru 20 menit mengudara meninggalkan Sorowako. Masih butuh 50-an menit lagi sampai ke Bandara Hasanuddin Makassar. Untung suara panik sang pilot masih ditangkap oleh Antene Radio Malili. Petugas Radio Udara Malili segera melaporkan kejadian ini ke Airport Sorowako. Airport Sorowako mengiyakan, Pesawat Pelita diiizinkan kembali ke Sorowako.
Di darat, insiden ini segera diinformasikan ke Departemen Security, Safety, Pemadam Kebakaran dan Rumah Sakit PT. Inco. “This is Emergency Call. All unit go to The Airport right now ”. Perintah itu ditanggapi dengan cepat. Selang beberapa menit kemudian, semuanya langsung meluncur ke Airport Sorowako. Disana, mereka segera bersiap melakukan operasi penyelamatan.
Beginilah adegan awal latihan operasi penanggulangan kecelakaan pesawat- yang digelar di Airport Sorowako, Senin, 22 Oktober lalu. Dalam simulasi ini digambarkan, Pesawat Pelita 149 yang melakukan penerbangan dari Sorowako menuju Makassar mengalami gangguan mesin dan harus mendarat darurat di Sorowako. Karenanya, untuk meminimalkan korban, penyelamatan yang tanggap harus segera dilakukan.
Operasi penyelamatan yang bertajuk Broken Wing ini baru pertama kali diadakan di Sorowako. Sihanto Bella, salah seorang Media Relation Officer PT. Inco menuturkan, simulasi ini bertujuan melatih kesigapan departemen-departemen di PT. Inco melakukan penyelamatan kecelakaan pesawat. “Dengan latihan ini kita berharap semua pihak telah tahu apa yang harus dikerjakan ketika kecelakaan benar-benar terjadi,” tambahnya.
Dalam latihan ini, puluhan karyawan dari berbagai departemen di PT Inco memang dilibatkan, seperti dari Pemadam kebaksaran, Safety, Security, Tenaga Medis bahkan dari Mining. Semuanya bertugas sebagai tim penyelamat. Hadir pula beberapa pelajar SMU YPS dan keluarga ekspatriat. Mereka berperan sebagai penumpang pesawat. Ada yang berperan sebagai korban selamat, ada pula berlakon sebagai korban yang meninggal. Latihan kali ini pun tergolong komplit. Agar suasana tampak nyata, beberapa Magang dari Departemen External Relation PT Inco juga dilibatkan dengan berpura-pura sebagai wartawan yang hendak meliput insiden ini. Polisi dan TNI juga ikut serta dengan tugas membantu security menjaga keamanan.
Setelah adegan pertama berjalan lancar, penyelamatan pun mulai dilakukan. Sekitar jam 9 pagi, Pesawat Pelita yang telah mendapat izin mendarat darurat telah terlihat di atas langit Sorowako. Karena keterbatasan pesawat, sebuah bus besar milik PT Inco diibaratkan Pesawat Pelita Air dalam simulasi ini.
Pesawat itu akhirnya mendekati landasan pacu Airport. Seketika itu pula, puluhan security lari bergegas di samping landasan pacu, dan menyusuri semak-semak di sekitar landasan. Mereka mencari penumpang yang kemungkinan terjatuh atau keburu melompat sebelum pesawat mendarat. Segera setelah roda pesawat menyentuh landasan, dua mobil pemadam membuntuti pesawat dari belakang. Dari jauh telah terlihat asap hitam keluar dari ekor pesawat. Tepat ketika pesawat berhenti, belasan petugas pemadam kebakaran langsung menyemprotkan bahan kimia penjinak api ke badan pesawat. Butuh beberapa menit agar api padam. Setelah api padam, mereka langsung mengevakuasi penumpang keluar dari pesawat.
Tak jauh dari pesawat, mobil Open Cup telah menunggu untuk membawa penumpang menjauh ke daerah seratus meter lebih dari pesawat. Di daerah seratus meter lebih itu, dua unit ambulans dan sebuah tenda darurat dengan belasan paramedis dibantu petugas safety telah bersiap. Tiga buah mobil dengan bendera berbeda -Hitam, Orange, Hijau- juga berada di lokasi ini. Mereka adalah para koordinator operasi penyelamatan. Yang berbendera hitam bertindak sebagai koordinator transportasi, orange adalah pengawas insiden sedang yang hijau sebagai koordinator perawatan medis.
Akhirnya semua penumpang berhasil dievakuasi ke tenda darurat. Dengan cekatan paramedis bergerak cepat. Untuk memudahkan perawatan, mereka memasangkan pita berbeda -merah, kuning, hijau dan hitam- ke pergelangan tangan penumpang. Pita merah untuk penumpang yang luka serius seperti pendarahan, patah tulang, atau gangguan pernapasan. Karena butuh penanganan cepat, mereka langsung dibawa ke rumah sakit dengan ambulans dan mobil bantuan Mining. Yang kuning untuk penumpang luka ringan, sedang hijau untuk yang selamat tanpa luka sama sekali. Mereka dibawa ke hanggar bandara untuk keperluan identifikasi dan perawatan lebih lanjut. Yang terakhir yang mendapat pita hitam. Mereka adalah korban yang telah meninggal. Mereka ditaruh dikantung mayat dan diletakkan di dekat mobil berbendera hitam. Setelah semua evakuasi dan pertolongan pertama untuk korban selamat diberikan, barulah korban yang meninggal ini dibawa ke rumah sakit.
Sementara itu, ketika operasi tengah berlangsung, masyarakat telah berdesak-desakan dengan security di gerbang Airport. Mereka ingin melihat insiden ini dari dekat. Security dan pihak kepolisian tak bergeming. Mereka tak mempersilahkan siapapun masuk. Wartawan yang hendak meliput pun tak diperbolehkan mendekat, Mereka diminta bersabar menunggu operasi hingga selesai. “Akan ada konfrensi pers setelah ini. Nanti Bapak bisa bertanya apapun,”bujuk salah seorang security. Agar keamanan lebih terkendali, Marco dan Deris –dua anjung herder- juga disiagakan untuk menghalau siapa saja yang tetap nekad menerobos masuk. Ini dilakukan agar operasi penyelamatan yang tengah berjalan tidak terganggu.
Akhirnya sekitar jam satu siang, operasi penyelamatan ini pun selesai. Simulasi ini sukses dan berjalan lancar. Aplaus yang meriah diberikan kepada pemadam, safety, paramedis, security serta semua pihak yang telah bekerja sesuai dengan yang direncanakan. Kini kita tinggal berharap, semoga mereka dapat bekerja sebaik ini ketika kecelakaan benar-benar terjadi.*