
Beda Buku. Andi Mallarangeng sedang memberikan pengantar dalam Acara Beda Buku “Dari 0,0 Kilometer” di Rumah Jabatan Bupati Luwu Timur. (Foto : Asmar)
Rumah Jabatan Bupati Luwu Timur tampak berbeda Jumat sore, 9 November lalu. Spanduk, umbul-umbul dan puluhan stiker bergambar buku “Dari Kilimoter 0,0” terlihat bertebaran di teras rumah. Dua tenda besar yang berdiri di halaman juga disesaki warga. Jalan poros di depan rujab pun macet karena puluhan kendaraan yang diparkir ikut mengambil badan jalan. Ada apa gerangan?
Sore itu memang lain dari biasanya. Sore itu, Juru Bicara Presiden, Andi Alfian Mallarangeng bertandang ke Malili. Ia tengah menghadiri peluncuran bukunya “Dari Kilometer 0,0” di Rujab Bupati. Tak ayal, Rujab pun disesaki warga. Meski hujan deras terkadang menguyur, warga tetap kesem-sem melihat politisi muda yang sedang naik daun itu.
Acara peluncuran buku ini dimulai pukul 4 sore. Setelah dibuka oleh Bupati Luwu Timur, Andi Hatta Marakarma, peluncuran dimulai dengan pengantar dari Andi Mallarangeng. Dalam pengantarnya, Bung Andi mengucapkan rasa terima kasihnya atas sambutan hangat dari warga Luwu Timur. Ia juga banyak memaparkan asal muasal judul bukunya ini. Menurutnya, buku ini ia namai “Dari Kilometer 0,0” karena kini ia tinggal bersama presiden di Istana Negara. Dahulu katanya, titik kilometer 0 sebuah kota selalu diukur dari alun-alun pusat pemerintahan di kota itu. Untuk konteks negara, letaknya tentu di kantor pusat pemerintahan tertinggi di negara itu. Nah, kalau Indonesia, letaknya tepat di Istana Negara. Pemilik kumis yang amat dikagumi Dorce ini berharap, dengan membaca buku terbarunya ini, orang bisa lebih tahu tentang hal-hal di istana negara dan masalah seputar kepresidenan.
“Dari Kilometer 0,0” ini adalah kumpulan kolom-kolom Andi Mallarangeng yang pernah dimuat oleh koran Jurnal Nasional. Kolom-kolom itu bercerita tentang keseharian dan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudoyono selama dua tahun belakangan ini. Kebijakan-kebijakan itulah yang direkam oleh Bung Andi dan akhirnya dibukukan. Boleh dikata, “Dari Kilometer 0,0” adalah diari kebijakan presiden.
Sebelum di Malili, buku ini lebih dulu diluncurkan di Jakarta dan Makassar. Jadi Malili adalah tempat peluncuran ketiganya. Dalam peluncurannya kali ini, Andi Hatta, sempat berkelakar dengan nada protes. “Semestinya buku ini diluncurkan pertama kali di Malili, karena titik 0,0 Indonesia sebenarnya ada di Luwu Timur. Lihatlah, jarak Luwu Timur Ke Sabang sama dengan jarak Luwu Timur ke Merauke. Bukan itu saja, di sebelah utara, jarak Luwu Timur sampai perbatasan Filipina sama dengan jarak Luwu Timur sampai perbatasan Australia di sebelah selatan. Jadi Luwu Timur adalah titik perpotongan Barat-Timur dan Utara-Selatan-nya Indonesia, singkatnya Luwu Timur adalah titik 0,0-nya Indonesia,”paparnya. Kelakar Bupati disambut dengan senyuman oleh Bung Andi.
Dalam peluncuran ini, hadir juga Vitri Cahyaningsih, istri Bung Andi tercinta. Beberapa pengurus Indonesian Research and Development Institute (Indonesian RDI) dari Jakarta juga datang mewakili penerbit. Sebagai pembedah, pihak penerbit mengundang Ramadan Pohan (Redaksi Jurnal Nasional), Dr. Kautsar Bailusy (Dosen Politik Universitas Hasanuddin), dan Andi Yayat Pangerang (Budayawan).
Acara ini berlangsung lebih dari dua jam. Dalam ulasannya, Ramadan Pohan banyak memaparkan kelebihan buku ini. “Dari Kilometer 0,0” menurutnya, menceritakan beberapa keseharian presiden yang mungkin tak pernah diberitakan oleh media massa. Buku ini juga semacam kaledioskop kebijakan presiden yang ditulis langsung oleh orang dekat presiden. Selain itu, buku ini ditulis secara intelek yang walaupun isinya menebarkan masalah tapi juga disertai solusi sehingga menumbuhkan optimisme. Dan yang terpenting tambah Ramadan, “Dari Kilometer 0,0” dapat menjadi jembatan antara publik dengan pemimpin republiknya.
Dua pembedah lainnya lebih banyak mengupas sisi kehidupan penulis. Dr. Kautsar Bailusy memaparkan kiprah politik Bung Andi dari dosen hingga saat ini, sedangkan Andi Yayat Pangerang lebih banyak menceritakan masa kecil, keluarga dan sisi keselebritisan Andi Mallarangeng.
Sayang gema adzan magrib harus menghentikan acara. Padahal, mungkin banyak peserta yang ingin bertanya atau mengutarakan pendapat berbeda tentang buku ini. Namun sepertinya, semuanya telah terhipnotis oleh kumis Bung Andi. Buktinya, ketika sesi pertanyaan tak jadi dibuka, tak ada satu pun yang mengajukan protes. Selepas acara, Bung Andi pun langsung ketiban tugas tambahan. Politisi yang banyak dikagumi ibu-ibu dan remaja putri se-Indonesia ini langsung dikerumuni warga Malili yang berebut meminta tanda tangan dan foto bersama. *.*
Desember 18, 2007 pukul 9:41 am
Buku yg berat kayaknya
Desember 19, 2007 pukul 4:02 am
Wah..Daeng Battala jadi penasaran pengen beli bukunya nih. Salam kenal ya?
Desember 19, 2007 pukul 4:03 am
Bukunya bagus ya! Sayang waktu bedah buku tidak dapat undangannya, jadi ya tidak dapat.
Desember 19, 2007 pukul 3:48 pm
pernah ketemu bukunya. cuma buka-buka. keknya ada ji di biblioholic hehehehe … thanks, mul. btw, gmana kabarmu ces?